LANGSA Klikindonesia
– Pendataan korban terdampak banjir oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menuai sorotan dan kekecewaan warga di sejumlah wilayah, salah satunya di Gampong Paya Bujuk Seulemak, Langsa Baro, Kota Langsa, Aceh. Warga menilai data resmi yang dirilis jauh dari kondisi riil di lapangan dan berpotensi memengaruhi penyaluran bantuan yang adil.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Banjir yang melanda kawasan itu sejak Selasa, 25 November 2025, menyebabkan genangan luas di permukiman dan mengganggu aktivitas masyarakat. Secara historis, hampir seluruh warga di gampong tersebut terdampak, terutama di kawasan BTN Meuligoe Indah, Dusun Lingkungan Bukit. Namun, dalam data terbaru BNPB, jumlah warga terdampak dari Gampong Paya Bujuk Seulemak hanya tercatat segelintir orang. Bahkan, warga BTN Meuligoe Indah yang seluruhnya mengalami banjir, hanya sekitar 3 KK ( tiga nama Kartu Keluarga) yang masuk dalam daftar.
Perbedaan angka yang mencolok ini memicu kecemasan. “Kami bingung dasar pendataannya apa. Semua rumah di BTN ini terkena banjir,” ujar seorang warga kepada Klikindonesia, Senin (9/2/2026). Kekecewaan juga disertai kekhawatiran bahwa ketidakakuratan data akan berujung pada minimnya bantuan. Warga menilai, jika data resmi hanya mencatat sedikit korban, pemerintah terkesan tidak memiliki niat kuat untuk membantu di lokasi yang sebenarnya mengalami musibah cukup berat.
Salah seorang warga di Dusun Lingkungan Bukit menyampaikan keluhannya dengan nada prihatin: “Jangan sampai warga yang rumahnya tidak terkena banjir malah dapat bantuan. Kami yang jelas air tinggi di dalam rumah tidak terdaftar, padahal semua berkas sudah dilengkapi. Kepada Pak Kadus dan Pak Geuchik, tolong perhatikan warganya. Lihat rumah kami, jangan lihat yang dekat rumah anda saja. Dan jangan hanya aparat desa/Tuha Peut dan orang-orang dekatnya saja yang terdata, dan sering interaksi dengan petugas BNPB. Kami sangat kecewa!”
Pihak pemerintah gampong menyatakan bahwa mereka baru menerima data nama warga yang terdaftar untuk menerima bantuan pada minggu pertama Februari 2026, dan akan ada tahap kedua. Mereka mengklaim telah menyerahkan semua data yang masuk dari warga kepada pihak berwenang.
Akurasi data merupakan fondasi utama dalam penanganan musibah. Ketidaktepatan sasaran dapat berdampak langsung pada penyaluran bantuan, hingga program pemulihan bagi warga terdampak. Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari BNPB atau pihak terkait lainnya mengenai data yang di rilis tersebut.
Warga berharap dilakukan audit dan pembaruan data secepatnya agar respons pemerintah terhadap musibah banjir berjalan adil, transparan, dan proporsional. “Data yang salah hanya akan melukai warga yang sudah terluka,” tandas seorang warga.











