Politik Santun: Menang Tanpa Dendam, Kalah Tanpa Musuh

- Jurnalis

Selasa, 2 Juni 2026 - 12:28 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Caption: Taufiqurrahman, S. Hi
Ketua Bawaslu Kota Langsa
Mantan Wartawan CNN Indonesia

Caption: Taufiqurrahman, S. Hi Ketua Bawaslu Kota Langsa Mantan Wartawan CNN Indonesia

Oleh Taufiqurrahman, S.Hi
Ketua Bawaslu Kota Langsa | Mantan Wartawan CNN Indonesia

LANGSA Klikindonesia
— Ada satu pertanyaan yang kerap mengusik kepala saat musim politik tiba: Apakah kita berpolitik untuk mencari kekuasaan, atau sekadar mencari musuh?

Jika kita jujur, terlalu banyak elite dan pendukung yang memilih jawaban kedua. Politik dijadikan ajang balas dendam bertahun-tahun. Lawan politik bukan lagi pesaing yang boleh berbeda pandangan, tetapi musuh yang harus dihancurkan, nama baiknya dicabik-cabik di linimasa media sosial, aib pribadinya diumbar tanpa malu. Padahal yang dibutuhkan rakyat hanya satu: Jalan berlubang ditambal, harga beras stabil, dan anak muda punya pekerjaan.

ADVERTISEMENT

paralax

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dendam Politik: Racun yang Memabukkan

Bayangkan jalan raya di Kota Langsa saat jam sibuk. Jika semua pengendara ngebut, serobot lampu merah, dan membunyikan klakson sebagai pelampiasan dendam kepada pengendara lain yang lebih dulu menyalip, yang terjadi bukanlah keadilan, melainkan kemacetan total. Semua frustrasi, semua rugi waktu, semua pulang dengan emosi meledak.

Tapi coba jika satu atau dua orang mulai mengalah, memberi jalan, tersenyum, dan tetap berhenti di lampu merah, perlahan arus lalu lintas pun pulih. Semua sampai tujuan, tanpa harus saling membenci.

Politik pun sama. Dendam adalah racun yang kita minum sendiri, tapi berharap orang lain yang mati. Yang habis justru energi kita, sementara rakyat terus menanti solusi atas persoalan nyata mereka.

Beda Pilihan Itu Biasa, yang Tak Biasa Menjadikannya Alasan Bermusuhan

Demokrasi memberi kita hak untuk berbeda pilihan. Tapi etika mengajarkan bagaimana berbeda tanpa harus berkelahi. Ibarat pertandingan sepak bola, tekel diperbolehkan, tapi tidak pernah dibenarkan sengaja mematahkan kaki lawan. Kalah atau menang adalah hal wajar. Peluit panjang berbunyi, salaman tetap dilakukan. Besoknya, bertemu lagi di warung kopi, ngobrol biasa, seolah tak ada selebrasi kemenangan atau kesedihan kekalahan.

Jangan sampai karena perbedaan bendera dan pilihan, tali silaturahmi yang dibangun bertahun-tahun putus hanya dalam hitungan minggu.

Politik Santun Bukan Tanda Kelemahan

Orang yang santun bukan berarti diam saat dizalimi. Bukan pula berarti tak punya pendirian. Santun adalah memilih bertarung di ranah gagasan, bukan di ranah caci maki. Santun adalah mengkritik kebijakan, bukan menyerang keluarga. Santun adalah menyajikan data saat mempertanyakan kinerja, bukan hoaks saat kehabisan argumen.

Kritik boleh pedas, bahkan sangat pedas. Tapi bumbunya harus fakta, bukan fitnah. Sebab kritik yang membangun adalah vitamin bagi demokrasi, sementara caci maki hanya sampah yang meracuni ruang publik.

Harga yang Mahal dari Politik Dendam

Balas dendam dalam politik memiliki ongkos yang tidak murah. Hari ini kita tertawa karena lawan politik tersungkur, besok giliran kita yang dijegal dengan cara yang sama. Lingkaran setan ini tak akan pernah berakhir. Sementara rakyat terus menunggu: kapan sawah mereka mendapat air, kapan anak-anak mereka bisa bersekolah di gedung yang layak, kapan keadilan dan penghasilan yang pantas benar-benar mereka rasakan.

Demokrasi yang kuat tidak dibangun oleh kemenangan satu kelompok atas kelompok lain. Demokrasi tumbuh subur ketika semua pihak bersedia menghormati aturan, menghargai perbedaan, dan menempatkan kepentingan rakyat di atas ambisi pribadi maupun golongan.

Politik Dimulai dari Kita, Bukan dari Elit Saja

Jangan salah. Politik santun tidak hanya tanggung jawab calon presiden, gubernur, atau bupati. Politik santun harus dimulai dari masyarakatnya. Kita perlu belajar membedakan antara lawan politik dan musuh. Dalam demokrasi, lawan politik adalah pihak yang memiliki gagasan berbeda, bukan orang yang harus dibenci.

Hari ini seseorang bisa menjadi lawan dalam kontestasi. Besok, ia bisa menjadi mitra kita membangun desa, kecamatan, kota, dan bangsa. Karena itu, menjaga hubungan baik setelah kompetisi berakhir bukan sekadar sikap terpuji, melainkan bentuk kedewasaan politik yang sangat fundamental.

Setelah Baliho Diturunkan, Kita Tetap Bertetangga

Pada akhirnya, setelah baliho roboh, spanduk sobek, dan panggung kampanye dibongkar, kita tetap hidup bertetangga. Anak-anak kita tetap bermain bersama. Kita tetap akan kondangan di rumah yang sama. Jangan sampai karena panggung politik lima tahun sekali, kita memilih musuhan seumur hidup.

Siapa yang kita pilih adalah hak konstitusional. Tapi bagaimana cara kita berpolitik menunjukkan siapa diri kita sebenarnya. Pilih menjadi bensin, atau pilih menjadi air? Dendam adalah bensin: sekali percik, membakar segalanya. Santun adalah air: mampu memadamkan api, dan juga mampu menumbuhkan padi untuk kehidupan bersama.

Bangsa ini tidak butuh jagoan berantem. Bangsa ini butuh teladan bagaimana berpolitik dengan bermartabat: menang tanpa merendahkan, kalah tanpa memusuhi, mengkritik tanpa menghina, dan memimpin tanpa membalas dendam.

Karena kekuasaan hanyalah titipan sementara. Tapi persaudaraan dan persatuan bangsa adalah warisan yang harus dijaga selamanya.

Masih mau balas dendam politik? Atau kita mulai belajar menjadi air?

Berita Terkait

Wali Kota Langsa Duduk Bersama Rakyat di Nobar Semifinal Piala Dunia, Suasana Lapangan Merdeka Bergemuruh
Aspirasi Warga Terwujud, Pemko Langsa Gelar Nobar Piala Dunia 2026 di Lapangan Merdeka
Pemko Langsa Tebar 20.963 Seragam Cinta: “Kami Ingin Semua Anak Pintar Tanpa Beban”
Bukan Sekadar Antar ke Gerbang, Ini Pesan Wali Kota Langsa untuk Para Ayah di Hari Pertama Sekolah
Wali Kota Langsa Serahkan Bantuan Peralatan Sekolah untuk Anak Yatim di Paya Bujok Seulemak
Wali Kota Langsa Serahkan Seragam Sekolah Gratis untuk 284 Anak Yatim Piatu di Langsa Lama
Kota Langsa Sukses Pukau Ribuan Penonton di Karnaval Rakernas APEKSI 2026, Angkat Harmoni Budaya Pesisir Timur
DWP Kota Langsa Tanamkan “Pendidikan Hati” di Telaga Tujoh: Kunci Lahirkan Generasi Emas Negeri

Berita Terkait

Kamis, 16 Juli 2026 - 16:29 WIB

Wali Kota Langsa Duduk Bersama Rakyat di Nobar Semifinal Piala Dunia, Suasana Lapangan Merdeka Bergemuruh

Rabu, 15 Juli 2026 - 13:33 WIB

Aspirasi Warga Terwujud, Pemko Langsa Gelar Nobar Piala Dunia 2026 di Lapangan Merdeka

Senin, 13 Juli 2026 - 15:57 WIB

Pemko Langsa Tebar 20.963 Seragam Cinta: “Kami Ingin Semua Anak Pintar Tanpa Beban”

Minggu, 12 Juli 2026 - 19:35 WIB

Bukan Sekadar Antar ke Gerbang, Ini Pesan Wali Kota Langsa untuk Para Ayah di Hari Pertama Sekolah

Jumat, 10 Juli 2026 - 17:15 WIB

Wali Kota Langsa Serahkan Bantuan Peralatan Sekolah untuk Anak Yatim di Paya Bujok Seulemak

Berita Terbaru