Oleh Taufiqurrahman, S.Hi
Ketua Bawaslu Kota Langsa | Mantan Wartawan CNN Indonesia
LANGSA Klikindonesia
— Ada satu pertanyaan yang kerap mengusik kepala saat musim politik tiba: Apakah kita berpolitik untuk mencari kekuasaan, atau sekadar mencari musuh?
Jika kita jujur, terlalu banyak elite dan pendukung yang memilih jawaban kedua. Politik dijadikan ajang balas dendam bertahun-tahun. Lawan politik bukan lagi pesaing yang boleh berbeda pandangan, tetapi musuh yang harus dihancurkan, nama baiknya dicabik-cabik di linimasa media sosial, aib pribadinya diumbar tanpa malu. Padahal yang dibutuhkan rakyat hanya satu: Jalan berlubang ditambal, harga beras stabil, dan anak muda punya pekerjaan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dendam Politik: Racun yang Memabukkan
Bayangkan jalan raya di Kota Langsa saat jam sibuk. Jika semua pengendara ngebut, serobot lampu merah, dan membunyikan klakson sebagai pelampiasan dendam kepada pengendara lain yang lebih dulu menyalip, yang terjadi bukanlah keadilan, melainkan kemacetan total. Semua frustrasi, semua rugi waktu, semua pulang dengan emosi meledak.
Tapi coba jika satu atau dua orang mulai mengalah, memberi jalan, tersenyum, dan tetap berhenti di lampu merah, perlahan arus lalu lintas pun pulih. Semua sampai tujuan, tanpa harus saling membenci.
Politik pun sama. Dendam adalah racun yang kita minum sendiri, tapi berharap orang lain yang mati. Yang habis justru energi kita, sementara rakyat terus menanti solusi atas persoalan nyata mereka.
Beda Pilihan Itu Biasa, yang Tak Biasa Menjadikannya Alasan Bermusuhan
Demokrasi memberi kita hak untuk berbeda pilihan. Tapi etika mengajarkan bagaimana berbeda tanpa harus berkelahi. Ibarat pertandingan sepak bola, tekel diperbolehkan, tapi tidak pernah dibenarkan sengaja mematahkan kaki lawan. Kalah atau menang adalah hal wajar. Peluit panjang berbunyi, salaman tetap dilakukan. Besoknya, bertemu lagi di warung kopi, ngobrol biasa, seolah tak ada selebrasi kemenangan atau kesedihan kekalahan.
Jangan sampai karena perbedaan bendera dan pilihan, tali silaturahmi yang dibangun bertahun-tahun putus hanya dalam hitungan minggu.
Politik Santun Bukan Tanda Kelemahan
Orang yang santun bukan berarti diam saat dizalimi. Bukan pula berarti tak punya pendirian. Santun adalah memilih bertarung di ranah gagasan, bukan di ranah caci maki. Santun adalah mengkritik kebijakan, bukan menyerang keluarga. Santun adalah menyajikan data saat mempertanyakan kinerja, bukan hoaks saat kehabisan argumen.
Kritik boleh pedas, bahkan sangat pedas. Tapi bumbunya harus fakta, bukan fitnah. Sebab kritik yang membangun adalah vitamin bagi demokrasi, sementara caci maki hanya sampah yang meracuni ruang publik.
Harga yang Mahal dari Politik Dendam
Balas dendam dalam politik memiliki ongkos yang tidak murah. Hari ini kita tertawa karena lawan politik tersungkur, besok giliran kita yang dijegal dengan cara yang sama. Lingkaran setan ini tak akan pernah berakhir. Sementara rakyat terus menunggu: kapan sawah mereka mendapat air, kapan anak-anak mereka bisa bersekolah di gedung yang layak, kapan keadilan dan penghasilan yang pantas benar-benar mereka rasakan.
Demokrasi yang kuat tidak dibangun oleh kemenangan satu kelompok atas kelompok lain. Demokrasi tumbuh subur ketika semua pihak bersedia menghormati aturan, menghargai perbedaan, dan menempatkan kepentingan rakyat di atas ambisi pribadi maupun golongan.
Politik Dimulai dari Kita, Bukan dari Elit Saja
Jangan salah. Politik santun tidak hanya tanggung jawab calon presiden, gubernur, atau bupati. Politik santun harus dimulai dari masyarakatnya. Kita perlu belajar membedakan antara lawan politik dan musuh. Dalam demokrasi, lawan politik adalah pihak yang memiliki gagasan berbeda, bukan orang yang harus dibenci.
Hari ini seseorang bisa menjadi lawan dalam kontestasi. Besok, ia bisa menjadi mitra kita membangun desa, kecamatan, kota, dan bangsa. Karena itu, menjaga hubungan baik setelah kompetisi berakhir bukan sekadar sikap terpuji, melainkan bentuk kedewasaan politik yang sangat fundamental.
Setelah Baliho Diturunkan, Kita Tetap Bertetangga
Pada akhirnya, setelah baliho roboh, spanduk sobek, dan panggung kampanye dibongkar, kita tetap hidup bertetangga. Anak-anak kita tetap bermain bersama. Kita tetap akan kondangan di rumah yang sama. Jangan sampai karena panggung politik lima tahun sekali, kita memilih musuhan seumur hidup.
Siapa yang kita pilih adalah hak konstitusional. Tapi bagaimana cara kita berpolitik menunjukkan siapa diri kita sebenarnya. Pilih menjadi bensin, atau pilih menjadi air? Dendam adalah bensin: sekali percik, membakar segalanya. Santun adalah air: mampu memadamkan api, dan juga mampu menumbuhkan padi untuk kehidupan bersama.
Bangsa ini tidak butuh jagoan berantem. Bangsa ini butuh teladan bagaimana berpolitik dengan bermartabat: menang tanpa merendahkan, kalah tanpa memusuhi, mengkritik tanpa menghina, dan memimpin tanpa membalas dendam.
Karena kekuasaan hanyalah titipan sementara. Tapi persaudaraan dan persatuan bangsa adalah warisan yang harus dijaga selamanya.
Masih mau balas dendam politik? Atau kita mulai belajar menjadi air?











