Aceh Timur Klikindonesia
– Penderitaan warga Aceh Timur pascabanjir bandang dan tanah longsor mulai menemukan titik terang. Yayasan Geutanyoe yang berkolaborasi dengan Save The Children akan memulai penyaluran bantuan tahap pertama di dua kecamatan terparah, yaitu Serbajadi dan Simpang Jernih, mulai besok, 14 April 2026.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Lokasi penyaluran dipusatkan di Lokop, Serbajadi. Ribuan paket bantuan yang disiapkan terdiri dari 750 paket perlengkapan sekolah, 750 paket perlengkapan memasak (kompor, regulator, tabung gas, piring, gelas, sendok, spatula, panci, ember, dan teflon), serta 1.500 paket perlengkapan kebersihan diri.
Program Manager Yayasan Geutanyoe, Nasruddin, menyampaikan bahwa bantuan ini merupakan wujud nyata kepedulian terhadap para korban. Namun, dengan nada prihatin, ia mengakui bahwa skala bantuan saat ini masih jauh dari kebutuhan riil di lapangan.
“Kami hanya mampu menjangkau beberapa desa. Padahal, banjir melanda 454 desa di Aceh Timur. Ini baru setetes air di tengah lautan penderitaan,” ujar Nasruddin.
Nasruddin mengungkapkan tantangan terbesar bukan hanya pada jumlah bantuan, tetapi juga akses geografis. Sebag besar wilayah terdampak berada di pedalaman dengan infrastruktur rusak total.
“Untuk mencapai lokasi, tim harus menggunakan perahu boat menyusuri sungai. Waktu tempuhnya mencapai 3 hingga 5 jam sekali jalan. Ini pekerjaan ekstra berat, tapi kami tidak akan menyerah,” tuturnya.
Lebih memilukan lagi, Nasruddin menyoroti nasib anak-anak korban banjir yang hingga kini belum mendapatkan bantuan perlengkapan sekolah. Menurutnya, ribuan anak di Kecamatan Pante Bidari, Rantau Peuteulak, Peureulak, Indra Makmu, hingga Banda Alam masih membutuhkan tas dan alat tulis.
“Mereka kehilangan segalanya, termasuk buku dan seragam. Pendidikan tidak boleh berhenti hanya karena bencana. Kami berharap ada pihak lain yang segera mengulurkan tangan untuk anak-anak ini,” harapnya dengan suara bergetar.
Nasruddin menegaskan, Yayasan Geutanyoe tidak akan berhenti di tahap ini. Pihaknya akan terus memantau perkembangan situasi dan melakukan pendataan kebutuhan korban secara berkala. Bantuan berkelanjutan menjadi target utama, meskipun keterbatasan dana dan logistik masih membayangi.
“Kami tidak bisa sendirian. Kami mengajak seluruh elemen masyarakat, perusahaan, dan pemerintah untuk bergerak bersama. Korban banjir Aceh Timur butuh uluran tangan kita semua,” pungkasnya.
Dengan mulai mengalirnya bantuan ini, secercah harapan kembali menyinari wajah-wajah lelah para korban. Namun, perjalanan panjang menuju pemulihan masih terbentang. Kini, saatnya semua pihak bersatu untuk Aceh Timur bangkit kembali.











