LANGSA Klikindonesia
(Minggu, 02/11/2025)
Sebuah skandal layanan publik kembali terkuak. Masyarakat di Perumahan Avina, Simpang Komodor, Gampong Birem Puntong, Kecamatan Langsa Baro, saat ini seperti hidup di zaman purba. Listrik padam sejak jelang Maghrib, dan yang lebih menyakitkan, PT PLN (Persero) diduga kuat sedang ‘membuang badan’ dengan bersembunyi di balik kontrak pihak ketiga.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Bukan sekadar pemadaman biasa, ini adalah episode berulang yang ke-‘x’ kalinya. Warga, yang sudah jengah menjadi kelinci percobaan ketidakmampuan PLN, hanya mendapat jawaban klise: “sedang ditangani”. Faktanya? Teknisi lapangan yang datang dengan polosnya mengaku gardu listrik tidak bisa diperbaiki untuk malam ini. Sebuah pernyataan menyerah yang memalukan dari sebuah perusahaan pelat merah.
“Kami sudah seperti warga negara kelas dua. Setiap kali lapor, jawabannya selalu sama: ‘sudah diserahkan ke vendor’ atau ‘pihak ketiga’. Seolah-olah tanggung jawab utama PLN hilang begitu saja. Ini pengelakan tanggung jawab yang sistematis!” ujar salah seorang warga dengan nada geram.
Dampaknya pun luar biasa tragis. Malam yang seharusnya tenang berubah jadi mimpi buruk. Anak-anak menangis tak bisa tidur karena kepanasan dan ketakutan dalam kegelapan. Kulkas, AC, komputer, dan peralatan elektronik lainnya terancam rusak total akibat tegangan listrik yang tidak stabil sebelum akhirnya padam sama sekali. Kerugian materi sudah pasti ada.
“Kami tidak tahu lagi harus berbuat apa. Laporan ke pengaduan online PLN hanya dibalas dengan permintaan maaf yang kosong. Media Klikindonesia sudah mencoba konfirmasi, tapi hingga berita ini turun, PLN masih tutup mulut bak sebuah benteng. Ini adalah bentuk penghinaan terhadap konsumen!” tambah warga lain.
Pernyataan resmi dari LCommand Center PLN Aceh yang dikutip dari balasan pengaduan online justru semakin memantik kemarahan. Mereka menyebut ini sebagai “PADAM MELUAS (TERKAIT SHOT TRAFO)” seolah ini adalah bencana alam yang tak terelakkan, tanpa sedikitpun menyebut langkah konkret dan timeframe perbaikan yang pasti.
Pertanyaan kritis kini mencuat: Apa sesungguhnya yang terjadi di tubuh PLN Aceh terutama Kota Langsa? Apakah dengan mudahnya mereka melemparkan tanggung jawab inti kepada vendor sehingga bisa bebas dari kewajiban? Ada apa dengan gardu di Avina yang disebut ‘tidak bisa diolah’? Apakah ini mengindikasikan kelalaian perawatan atau bahkan kejahatan struktural?
Warga Komplek Avina tidak butuh permintaan maaf lewat chat. Mereka butuh LISTRIK NYALA, dan JAMINAN bahwa drama memalukan ini tidak akan terulang lagi. Mereka menuntut pertanggungjawaban langsung dari pucuk pimpinan PLN, bukan dari pihak ketiga yang tidak jelas akuntabilitasnya.
Sampai kapan rakyat harus jadi korban dari ‘wayang’ kontrak dan vendor yang dipentaskan oleh PLN?











