LANGSA Klikindonesia, Jum’at 03 April 2026.
– Krisis beruntun yang melanda Kota Langsa banjir bandang, demonstrasi massa justru mempertontonkan satu fakta memalukan: ketiadaan figur Wali Kota dan Wakil Wali Kota di lapangan. Publik kini mempertanyakan di mana sesungguhnya komitmen kepemimpinan ketika rakyat sedang terpuruk.
Saat banjir merendam pemukiman warga, tidak ada bayangan Wali Kota maupun wakilnya meninjau lokasi, memberikan instruksi cepat, apalagi berdiri di sisi masyarakat yang kehilangan harta benda. Yang tampil di depan justru Sekretaris Daerah (Sekda). Seolah-olah, dialah yang menjalankan fungsi kepala daerah.
“Kondisi darurat bukan saatnya bersembunyi di balik laporan. Kehadiran fisik pemimpin adalah bentuk tanggung jawab moral yang tidak bisa didelegasikan,” tegas seorang warga terdampak banjir dengan nada kecewa.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ironi serupa terulang saat gelombang demonstrasi masyarakat meletus. Tidak ada pernyataan resmi, tidak ada upaya mediasi langsung, apalagi keberanian untuk turun ke tengah massa guna meredam ketegangan. Sekali lagi, publik hanya melihat Sekda yang berusaha menjelaskan situasi. Wali Kota dan Wakil Wali Kota seolah lenyap dari radar publik di saat yang paling kritis.
Pengamat kebijakan publik menilai pola ini bukan lagi soal teknis, melainkan persoalan krisis kehadiran moral. “Ketika rakyat sulit, pemimpin menghilang. Itu pertanda kepemimpinan tanpa keberpihakan. Sekda boleh saja bekerja, tapi jangan sampai rakyat lupa siapa yang seharusnya bertanggung jawab penuh,” ujarnya.
Kritik paling tajam datang dari kalangan pemuda dan aktivis kota Langsa. “Jangan-jangan Sekda sendiri yang merasa sudah menjadi Wali Kota. Ini bukan hanya soal tidak terlihat, ini soal hilangnya rasa memiliki terhadap penderitaan rakyat,” sindir seorang tokoh masyarakat yang enggan disebut identitasnya.
Yang lebih mengkhawatirkan, absennya pemimpin dalam krisis bisa memicu dua hal: pertama, hilangnya kepercayaan publik secara permanen; kedua, lumpuhnya koordinasi darurat karena komando utama tidak jelas. Sementara Sekda dipaksa tampil terus-menerus, publik bertanya: sebenarnya siapa yang memimpin Langsa saat ini?
Hingga berita ini ditayangkan, tidak ada satupun konfirmasi atau klarifikasi resmi dari Wali Kota maupun Wakil Wali Kota Langsa. Diam mereka di tengah sorotan tajam publik hanya memperkuat asumsi bahwa kehadiran pemimpin hanya penting saat pencitraan, bukan saat rakyat benar-benar membutuhkan.
Kehadiran pemimpin di tengah krisis bukan bonus, melainkan harga mati. Jika absen terus-menerus, jangan heran jika rakyat menarik kembali mandat yang pernah diberikan.











