Idi Rayeuk, Aceh Timur Klikindonesia – Langkah nyata akademisi hadapi perubahan iklim! Tim dosen Universitas unggulan Aceh Timur, dipimpin Dr. M. Iqbal Asnawi, S.H., M.H., bersama Dr. Hanri Aldino, S.H., M.H. dan Saiful Anwar, S.H., M.H., meluncurkan penelitian inovatif bertajuk “Carbon Trading via Blue Economy: Strategi Revolusioner Pemerintah Gampong Peudawa Puntong untuk Selamatkan Pesisir dan Raih Keuntungan Ekonomi”.
Kegiatan yang digelar di Kuala Peudawa Puntong, Kecamatan Idi Rayeuk, ini sukses menyedot perhatian pemangku kepentingan lokal, mulai dari keuchik (kepala desa), aparatur gampong, hingga masyarakat pesisir yang bersemangat wujudkan ekonomi hijau berbasis laut.
Carbon Trading & Blue Economy: Solusi Emas untuk Pesisir Aceh Timur
Dr. Iqbal Asnawi tegas ungkapkan: “Blue economy bukan sekadar wacana, tapi peluang emas untuk tingkatkan pendapatan masyarakat tanpa eksploitasi laut berlebihan. Carbon trading bisa jadi sumber pemasukan baru lewat konservasi mangrove, perikanan berkelanjutan, dan proteksi ekosistem pesisir!”
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sementara itu, Dr. Hanri Aldino soroti pentingnya kolaborasi triple helix (akademisi-pemerintah-masyarakat)untuk ciptakan kebijakan lokal yang tanggap iklim. “Bayangkan, setiap pohon mangrove yang ditanam tak hanya mencegah abrasi, tapi juga bisa dijual kredit karbonnya. Ini peluang bisnis hijau yang harus dimanfaatkan!”
Dukung Peran Gampong, Kunci Sukses Kebijakan Karbon
Saiful Anwar tekankan perlunya penguatan hukum dan kelembagaan gampong agar bisa mengelola skema carbon trading. “Kami akan siapkan rekomendasi kebijakan berbasis data dan aspirasi warga. Gampong harus jadi aktor utama penggerak ekonomi biru!”
Antusiasme Warga: Dari Mangrove untuk Dunia!
Masyarakat Kuala Peudawa Puntong menyambut hangat inisiatif ini. “Kami siap dukung program ini! Laut dan mangrove adalah warisan anak cucu kami. Jika bisa menghasilkan uang sekaligus menjaganya, kenapa tidak?” ujar salah satu nelayan setempat.
Penelitian ini diharapkan jadi game changer bagi kebijakan lingkungan dan ekonomi pesisir Aceh Timur, sekaligus bukti nyata peran akademisi dalam pembangunan berkelanjutan.











