LANGSA Klikindonesia
Perayaan Maulid Nabi 1447 Hijriah di Kota Langsa, Aceh, ternoda oleh kelangkaan air bersih yang melumpuhkan. Keluhan masyarakat membanjir menyusul matinya keran-keran air dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Keumuneng Langsa sejak berapa hari yang lalu.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kekecewaan warga tidak hanya karena untuk menyuci atau mandi tetapi juga karena momen spiritual yang seharusnya diisi dengan sukacita justru diwarnai kecemasan mencari air. “Ini kan bulan Maulid, saatnya kami bersyukur dan berbahagia. Tapi malah sibuk cari air ke mana-mana, uang belanja untuk dapur terpaksa dipakai beli air,” keluh Yati, seorang ibu rumah tangga dari Gampong Geudubang Jawa, Sabtu (6/9/2025).
PDAM punya alasan. Melalui pegawainya, pihaknya menyatakan bahwa gangguan ini disebabkan oleh terendamnya mesin instalasi akibat banjir pada Jumat (4/9) lalu. Banjir diduga menyebabkan kerusakan teknis yang membuat proses produksi dan pendistribusian air terhambat total.
Namun, investigasi lapangan oleh media Klikindonesia menemukan fakta yang lebih memprihatinkan dan mempertanyakan komitmen perawatan PDAM. Di Jalan Syiah Kuala, Gampong Tualang Tengoh, ditemukan kebocoran saluran pipa. Air bersih yang seharusnya sampai ke rumah warga justru memancur deras dan terbuang percuma ke selokan, menyisakan tanya, di mana efisiensi dan perawatan jaringan?
Fakta ini memperlihatkan dua kegagalan sekaligus: pertama, ketidaksiapan menghadapi gangguan alam pada infrastruktur kritis, dan kedua, kelalaian dalam merawat jaringan distribusi yang sudah tua atau rentan.
Krisis ini memaksa warga seperti Yati mengeluarkan kocek tambahan yang tidak sedikit. “Harusnya uangnya untuk keperluan anak dan keluarga, malah habis untuk beli air. Kami bertanya ke PDAM, jawabannya selalu sama, tapi tidak ada solusi yang cepat,” tambahnya.
Dualisme masalah ini mesin down dan pipa bocor memperparah penderitaan warga. Pertanyaan besar mengemuka: seberapa serius manajemen PDAM Tirta Keumuneng dalam melakukan pemeliharaan rutin dan antisipasi terhadap masalah yang dapat diprediksi seperti banjir?
Masyarakat Langsa tidak butuh alasan. Mereka butuh air mengalir di keran mereka. Mereka butuh transparansi dan tindakan nyata. Jika kebocoran bisa terlihat jelas di permukaan, tetapi dibiarkan berhari-hari, lalu di mana letak tanggung jawab pengelola?
Sampai berita ini diturunkan, warga masih menunggu dengan sabar yang sudah menipis, berharap PDAM segera bergerak cepat memperbaiki mesin dan menambal semua kebocoran, sebelum krisis air ini berubah menjadi krisis kepercayaan yang lebih dalam.











