LANGSA Klikindonesia
– Langit Kota Langsa yang cerah Rabu pagi (27/5/2026) seolah menjadi jawaban atas ujian berat yang melanda enam bulan silam. Di tengah semangat pengorbanan Idul Adha 1447 Hijriah, Lapangan Merdeka berubah menjadi lautan manusia. Ribuan warga dengan pakaian terbaik mereka tumpah ruah, memenuhi setiap sudut lapangan untuk menunaikan shalat Id berjamaah bersama Wali Kota Jeffry Sentana S. Putra dan Wakil Wali Kota Muhammad Haikal Alfisyahrin.

Sesuai pantauan langsung, suasana kekeluargaan begitu terasa. Sang Wali Kota dan wakilnya dengan sengaja memilih shaf terdepan, berbaur tanpa jarak dengan masyarakat. Mereka datang bukan sebagai pemimpin, melainkan sebagai saudara yang sama-sama merindukan ketenangan setelah cobaan bertubi-tubi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Tampak wajah-wajah haru saat imam, Tgk. Muhammad Atqal Atqiya, memimpin takbir. Suara menggema, menggugurkan rasa penat akan bencana banjir bandang yang enam bulan lalu merenggut enam nyawa dan melumpuhkan separuh kota. Khatib, Tgk. H. Syeh Muhajir Usman, S.Ag., LLM, dalam khutbahnya mengingatkan bahwa Idul Adha adalah tentang keikhlasan—sebagaimana Nabi Ibrahim yang rela mengorbankan putranya, dan warga Langsa yang saat ini diajak ikhlas menerima takbir, lalu bangkit kembali.
“Kurban bukan sekadar hewan. Kurban adalah luluhnya ego untuk saudaranya sendiri,” ujar khatib di hadapan ribuan pasang mata yang berkaca-kaca.
Usai shalat, Wali Kota Jeffry yang akrab disapa Jeffry Sentana itu menyampaikan pidato pendek namun menggugah. Ia membeberkan bahwa tepat 23 Mei lalu, kepemimpinannya bersama Haikal genap satu tahun. Namun ia tak mau larut dalam euforia.
“Prestasi memang banyak diraih. Tapi tujuan kami bukan piala atau penghargaan. Fokus kami adalah membangun tumpuan sosial menuju kesejahteraan,” tegas Jeffry di atas panggung sederhana.
Ia menyebut sejumlah program unggulan yang berjalan: target 1.000 penghafal Al-Qur’an melalui program Tahfidz Quran, seragam gratis untuk seluruh siswa SD dan SMP, serta kenaikan insentif bagi perangkat desa dan petugas fardhu kifayah.
Namun nada suaranya berubah saat menyinggung musibah banjir besar enam bulan lalu. “Itu cobaan terbesar dalam sejarah Kota Langsa. Enam saudara kita berpulang,” katanya pelan. Riuh jamaah mereda.
Tapi dari balik duka, Jeffry mengabarkan kabar yang disambut gemuruh takbir. Bantuan tahap II bagi 32.000 kepala keluarga (sekitar 115.000 jiwa) dipastikan cair bersamaan dengan bantuan jadup dan bantuan ekonomi. Total nilainya mencapai Rp471 miliar.
“Ini nantinya menjadi bantuan terbesar di Aceh. Kami terus berkoordinasi agar proses pencairan segera terealisasi,” ujarnya disambut takbir “Allahu Akbar” dari ribuan hadirin.
Di akhir pidato, Jeffry meminta doa agar proses berjalan lancar, seraya mengajak seluruh elemen menjaga ukhuwah dan persatuan. “Pemerintah akan terus bekerja maksimal. Demi satu kata: sejahtera.”
Usai sambutan, suasana berubah cair. Sapa-menyapa, maaf-maafan, dan senyum merekah di wajah warga yang mulai percaya bahwa setelah kesulitan pasti ada kemudahan.
Shalat Idul Adha 1447 H di Lapangan Merdeka Langsa menjadi bukti bahwa kota ini tidak hanya bangkit dari banjir, tetapi juga bangkit dalam keimanan dan solidaritas. Wallahu a’lam.













Komentar